Rabu, 01 Februari 2012

Adat Pernikahan Masyarakat Aceh

Berikut macam-macam adat pernikahan  yang ada pada masyarakat Aceh.. dikutip dari berbagai sumber artikelnikah.com menghadirkan macam-macam adat pernikahan yang ada di masyarakat Aceh pada garis besarnya…

 1. Tahap Melamar (Ba Ranup)
Ba Ranup atau tahapan melamar ini sendiri di Aceh di atur dengan adat yang lumayan panjang yakni terlebih dahulu jika seorang lelaki yang dinilai sudah cukup dewasa sudah saatnya berumah tangga maka untuk mencarikan jodoh bagi si lelaki tersebut atau jika seorang lelaki memiliki pilihan sendiri terhadap seorang perempuan untuk menjadi istrinya maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengutus kerabat yang dituakan dan dianggap cakap dalam berbicara (disebut sebagai theulangke) untuk menemui keluarga sang perempuan untuk menanyakan status sang perempuan apakah yang bersangkutan ada yang punya atau tidak. Jika ternyata yang bersangkutan belum ada yang punya dan tidak ada ikatan apapun dengan orang lain maka barulah theulangke mengutarakan lamarannya.

Pada hari yang telah ditentukan kedua belah pihak kemudian pihak keluarga laki-laki mengutus beberapa orang yang dituakan untuk datang ke rumah orang tua pihak perempuan untuk melamar secara resmi dengan membawa sirih dan isinya sebagai simbol penguat ikatan dan kesungguhan. Setelah acara lamaran selesai dan rombongan pelamar telah pulang maka barulah kemudian keluarga yang dilamar yaitu keluarga sang perempuan bermusyawarh dengan anak gadisnya mengenai diterima atau tidaknya lamaran tersebut.

2. Tahap Pertunangan (Jakba Tanda)
Jika kemudian lamaran tersebut diterima oleh pihak perempuan maka prosesi selanjutnya adalah keluarga pihak laki-laki akan datang kembali ke rumah orang tua sang perempuan untuk membicarakan hari perkawinannya (disebut peukeong haba) sekaligus juga menetapkan seberapa besar mahar yang diinginkan oleh sang calon mempelai perempuan (disebut jeunamee) dan seberapa banyak tamu yang akan diundang dalam resepsi tersebut.

Pada acara yang sama setelah semua musyawarah tentang besarnya mahar, hari perkawinan dan banyaknya tamu yang nanti akan diundang yang dilakukan oleh keluarga kedua calon mempelai mencapai kata sepakat, barulah kemudian dilanjutkan dengan acara berikutnya yakni acara pertunangan atau yang disebut dengan Jakba Tanda. Dalam acara ini pihak calon mempelai laki-laki akan mengantarkan berbagai makanan khas daerah Aceh dan juga barang-barang lainnya, yang diantaranya buleukat kuneeng dengan tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat pakaian wanita dan perhiasan yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria.

Tapi karena ada kalanya meski kedua pihak telah sampai pada tahap pertunangan perkawinan itu batal karena berbagai hal maka ‘aturan main’ dalam pertunangan ini jika ternyata pada akhirnya kedua belah pihak gagal bersanding di pelaminan maka tanda emas yang telah diberikan itu jika yang menyebabkan gagalnya perkawinan (tak jadi menikah) adalah calon mempelai pria maka tanda emas itu akan dianggap hangus tapi jika ternyata penyebabnya adalah calon mempelai wanita maka tanda emas itu harus diganti sebesar dua kali lipat.

3. Pesta Pelaminan
Setelah semua tahapan dapat dilalui maka barulah kemudian acara inti pun digelar yaitu pesta perkawinan itu sendiri. Dua prosesi lain dalam adat perkawinan masyarakat Aceh yang juga tak kalah pentingnya yaitu tueng dara baru yang berarti penjemputan secara adat yang dilakukan pihak pengantin laki-laki terhadap pihak pengantin perempuan dan tueng linto baroe yang bermakna sebaliknya. Setelah kedua mempelai melakukan akad nikah dihadapan pak kadi dan telah resmi menjadi sepasang suami istri, pesta pun digelar untuk memberi kesempatan kepada seluruh tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.

Sumber http://arsipbudayanusantara.blogspot.com/2013/06/adat-pernikahan-masyarakat-aceh.html

Adat Pernikahan Aceh Selatan

Prosesi Adat Perkawinan Suku Aneuk jamee di Aceh Selatan
Ditulis oleh Dav Dmilano

Adat istiadat di kecamatan Kluet Selatan Kabupaten Aceh Selatan bisa dikatakan sedikit berbeda dari adat aceh yang berlaku pada umumnya. Hal ini tidak terlepas daripada proses asimilasi budaya minangkabau ( pariaman) yang telah berbaur dengan kebudayaan lokal ditambah dengan hadirnya budaya suku kluwat (kluet) yang menyebabkan aturan dan simbol adat di daerahku semakin beragam. Perbedaan yang sangat jelas terlihat adalah mengenai penamaan prosesinya yang menggunakan bahasa minangkabau ( pariaman). Agar tidak bingung dan terus bertanya – tanya, silahkan lihat nama prosesi yang akan kutuliskan dibawah ini.

1. Ma isiak
Setelah sepasang pemuda dan pemudi merasa ada kecocokan hati untuk berumah tangga, maka si pemuda tersebut menemui salah seorang dari pihak /pertalian dengan ibunya atau pihak ayahnya untuk mendatangi pihak keluarga pemudi (calon istri) untuk menanyakan beberapa perihal sehubungan dengan hubungan anak – anak mereka itu. Prosesi ini tidak resmi karena pemangku adat dan hukum belum mengetahuinya. Walaupun demikian prosesi ini sudah jamak dan lazim dilakukan. Setelah kedua belah pihak mendapat jawaban dan kepastian, kemudian pihak keluarga laki – laki pamit dan masing – masing pihak akan melakukan musyawarah keluarga untuk tahap selanjutnya.

2. Manendai
Sesuai dengan hasil kesepakatan sewaktu marisiak tempo yang lalu, maka proses manendaipun dilaksanakan. Prosesi ini sering juga disebut dengan dengan batunangan ( bertunangan). Pada proses ini pihak keluarga laki – laki harus membawa jinamu (maskawin) berupa emas yang sudah ditetapkan ukurannya sesuai kesepakatan. Pihak keluarga laki – laki bertemu lagi dengan pihak keluarga perempuan yang disertai oleh hadirnya pimpinan adat dan hukum dirumah pihak perempuan. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak keluarga dan dipimpin oleh pimpinan adat dan hukum juga akan membahas kapan ditentukannya proses selanjutnya yaitu Ijab – Qabul dan hari peresmian.

3. Mendaftar ke Keuchik sebagai Pengurus Adat dan hukum / Imam Chik ( Imam mesjid)
Kegunaan mendaftar ini untuk menyelesaikan administrasi seperti Biodata Calon pengantin dan biaya pernikahan. Kemudian data kedua calon pengantin itu oleh Keuchik (lurah) akan diserahkan kepada pihak KUA dikecamatan yang bersangkutan. Sementara itu tugas Imam Chik adalah sebagai petugas P3N ( Panita Panitia pelaksana Pencatatan  Nikah) akan melakukan tes agar calon pengantin mendapatkan sertifikat yang nantinya dibawa ke Kantor Urusan Agama pada saat pendaftaran.

4. Duduak Niniak Mamak
Niniak mamak merupakan sebutan terhadap pertalian wali dan garis keturunan dari orang tua. Dalam hal khanduri (pesta) adat, mereka punya peranan penting diantaranya sebagai penghubung pihak keluarga dengan pemangku adat dan hukum. Tujuannya adalah untuk memusyawarahkan beberapa hal seputar pelaksanaan khanduri ( pesta) yang akan dilangsungkan.

5. Duduak Rami
Dalam acara ini, warga gampong yang telah diundang akan datang. Tujuannya adalah mendengarkan hasil musyawarah yang telah dilakukan antara pimpinan adat dan hukum dengan pihak keluarga penyelenggara acara khanduri (pesta) sekaligus menyatakan bahwa rumah dan isinya telah dipulangkan secara adat kepada pemangku adat dan hukum dan diteruskan kepada masyarakat sebagai pengelolanya. Dalam penyampaian itu, pihak pemangku adat dan hukum akan menjelaskan kapan prosesi – prosesi selanjutnya dilaksanakan sehingga warga yang hadir akan mengetahui jadwal dan tugas mereka nantinya.

6. Melapor Ke KUA
Sebelum datang ke Kantor Urusan Agama (KUA), semua kelengkapan administrasi calon pengantin seperti surat pengantar dari Keuchik ( kepala desa) dan sertifikat dari P3N Gampong ( Panitia pelaksana Pencatatan  Nikah) serta peralatan adat lainnya harus dibawa. Kedua calon pengantin hadir dengan menggunakan pakaian adat atau pakaian yang disepakati oleh pemangku adat dan hukum dan mereka akan menanda tangani surat keterangan menikah dihadapan pejabat KUA, Adat dan hukum serta pihak keluarga masing – masing.

7. Ijab – Kabul
Prosesi ini ada yang dilaksanakan di masjid, di KUA dan ada juga dilaksanakan dirumah pihak wanita. Semua itu akan disesuaikan dengan situasi yang ada. Proses ijab qabul tersebut pada umumnya sama dengan kebiasaan yang ada di provinsi aceh, mungkin yang berbeda cuma dari pengucapan lafalz nya saja. Kalau didaerahku biasanya menggunakan bahasa yang dimengerti saja ( bisa bahasa aceh, bahasa Kluwat atau bahasa jamee. Tapi sering dilafalzkan dengan bahasa indonesia).

8. Antar Linto
Prosesi antar linto biasa dilaksanakan pada malam harinya. Antar Linto berarti pihak keluarga laki – laki dibantu masyarakat (perangkat adat dan hukum harus menyertai) mengantar sipengantin pria kerumah pengantin wanita. Pengantin pria diharuskan memakai pakaian adat lengkap begitupun dengan pengantin wanita yang menanti dirumahnya, juga mengenakan pakaian adat lengkap. Ada beberapa prosesi adat yang menyertai acara Antar Linto ini seperti : Lago payuang ( adu payung), Basandiang (duduk dipelaminan) dan sabuang ayam. ( penjelasannya ada dalam dokumen format PDF).

9. Antek Silamak /Panggil Surut
Jika sewaktu prosesi Antar Linto, pengantin pria diantar beramai – ramai ke rumah pengantin wanita, maka pada prosesi panggil surut ini kedua pengantin baru tersebut akan diantar oleh kaum ibu dari rumah pengantin wanita kerumah pengantin pria pula. Kedua pengantin berpakaian adat aceh, mereka dipayungi payung berwarna kuning dan bersama rombongan akan berkunjung kerumah pengantin pria untuk melaksanakan ritual adat.Tujuan acara ini adalah bersilaturami sambil memperkenalkan keluarga masing – masing.

10. Malam Mintak Izin
Pada prosesi ini salah seorang dari pemangku adat dan hukum akan berpidato didepan tamu undangan yang hadir, dan menyatakan bahwa acara khanduri (pesta pernikahan) sudah berakhir kemudian secara adat, rumah yang selama acara berlangsung telah dipulangkan kepada adat dan hukum dikembalikan kepada tuan rumah. Dalam acara ini pihak keluarga tuan rumah akan bersalaman sambil mengucapkan terimakasih dengan pemangku adat dan hukum beserta tokoh masyarakat lainnya.

11. Mangulang Jajak.
Setelah semua kegiatan pesta selesai, kira – kira satu atau dua minggu setelahnya, kedua pengantin datang kembali kerumah keluarga pengantin pria dan menginap semalam. Kedatangan mereka tidak lagi diiringi oleh penganjo atau pihak keluarga wanita dan juga tidak membawa apa – apa. Mereka hanya datang dan bermalam saja. Hal ini bermaksud bahwa walaupun sudah menikah dan tinggal jauh dari orang tua, pengantin pria tidak melupakan kedua orang tuanya dan rumah yang telah didiami selama ini.

Begitulah prosesi adat perkawinan yang yang lazim harus dilaksanakan oleh kedua mempelai dan juga pihak keluarga mempelai tatkala mengadakan kanduri (pesta) Pernikahan didaerahku. Dari sekian banyak tahapan diatas, sudah tentu ada beberapa diantaranya yang tidak sahabat mengerti maksud dan tujuannya. Memang ada kesulitan tersendiri yang kurasakan tatkala mengumpulkan data mengenai pesta perkawinan didaerahku karena tidak semua orang yang mengerti secara utuh mengenai adat dan simbol yang berlaku. Namun Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu, ayahandaku tiba dirumah dan kesempatan yang baik ini segera kumanfaatkan untuk mengumpulkan informasi mengenai ini. Perlu diketahui bahwa beliau merupakan salah satu tokoh masyarakat dan juga anggota dari Majelis Adat Aceh Selatan wilayah Kluet Selatan.

Sumber :
http://cangkirkupi.blogspot.com/2012/11/prosesi-adat-perkawinan-suku-aneuk.html










ADAT PERNIKAHAN DI ACEH BARAT

Diposkan oleh Heni Safrianti r

Bila melihat kepada lembaran sejarah, adat masyarakat Aceh pada Umumnya telah banyak berubah karena perkembangan Zaman, dan perkembangan masyarakat. Khususnya di Kabupaten Aceh Baarat, bahwa adat yang menyangkut dengan Pernikahan telah mendapat perubahan dalam pelaksanaannya. Menurut kebiasaan Aceh khususnya yang sering dikerjakan masyarakat Kabupaten Aceh Barat, bahwa setiap Pinangan itu datangnya dari pihak laki-laki, bukan sebaliknya. Istilah adat Acehnya disebut “Kon mon mita tima” , artinya bukan sumur cari timba (bukan perempuan yang mencari laki-laki), tetapi, “Tima mita mon” artinya pihak laki-laki yang mencari calon isteri.
Langkah-Langkah yang harus ditempuh dalam proses Pernikahan di kabupaten Aceh Barat akan dijelaskan sebagai berikut :

a Cah Rot (Menanya)
Cah Rot yaitu suatu Istilah dalam bahasa aceh dimana pihak laki-laki mengunjungi pihak perempuan untuk menanyakan perihal si gadis apakah telah ada yang meminang apa belum. Perihal ini dilakukan oleh seorang utusan dari keluarga terdekat pihak laki-laki, orang ini dalam istilah Aceh disebut dengan “Theulangke”. Theulangke berfungsi sebagai perantara dalam menyelesaikan berbagai kepentingan diantara pihak calon Linto baro (Calon mempelai laki-laki), dan dara baro (calon mempelai perempuan) . Theulangke ditunjuk dari orang yang dituakan di dalam kampung yang cukup bijaksana, berwibawa, pengaruh dan alim serta mengetahui seluk beluk adat perkawinan.
Theulangke Menanyakan hal tersebut, dan Apabila si gadis tersebut belum ada yang meminang, maka Theulangke ini menyampaikan maksud untuk melamar sang gadis untuk seorang laki-laki.
Pada umumnya pemuda yang dianggap dewasa di daerah ini adalah berumur 25 tahun keatas, sedangkan si gadis berumur 18 tahun keatas. Pada waktu anak laki-laki sudah memasuki kedewasaan orang tuanya mereka-reka atau mencarikan jodoh untuk anak nya. Sedangkan orang tua pihak si gadis kebiasaan hanya menunggu kedatangan pinangan terhadap anaknya.
Dalam hal ini kadang-kadang ada juga pemuda dan si gadis yang terlebih dahulu mengadakan hubungan secara pribadi, apalagi pada zaman sekarang ini, kemudian si pemuda memberitahukan kepada orang tuanya. Dan selanjutnya orang tua pemuda mencari seorang Theulangke untuk menghubungi atau mendatangi orang tua si gadis.

b Meulakee
Pada Hari yang telah disepakati, datanglah beberapa orang perwakilan dari pihak laki-laki ke rumah pihak perempuan, pihak laki-laki yang datang yaitu : Wali, Theulangke, Keuchik, Teungku.
Dan di rumah perempuan, telah ada wakil dari pihak perempuan, yaitu: wali, Theulangke dan orang yang dituakan, yang menunggu kedatangan utusan pihak laki-laki. Pihak laki-laki datang dengan membawa sirih dalam cerana “Batee Ranup” serta penganan ringan (Bungong jaroe) yang bertujuan sebagai penguat ikatan kedua belah pihak.
Setelah acara lamaran ini selesai, maka perwakilan pihak laki-laki akan mohon pamit untuk pulang. Sementara itu keluarga pihak wanita meminta waktu untuk bermusyawarah, mengenai diterima-tidaknya lamaran tersebut.
Keputusan tidak diberikan pada saat itu, melainkan dilakukan musyawarah (Duek Pakat) terlebih dahulu dengan sanak family dalam keluarga anak gadis itu, Dan apabila lamaran tersebut diterima maka baru disampaikan pada Theulangke pihak laki-laki, biasanya masa menunggunya lebih kurang satu minggu. Hal ini dilakukan agar jangan sampai tergesa-gesa dalam mengambil keputusan tersebut. Setelah kata sepakat baru kemudian Theulangke menanyakan hal sekitar mahar (mas kawin).

c ”Duek Pakat” keluarga Perempuan
Duek Pakat serupa dengan musyawarah keluarga, acara ini di hadiri oleh seluruh keluarga dari pihak perempuan, seperti : orang-orang yang dituakan, saudara terdekat, keuchik, Tseulangke. Duek Pakat ini bertujuan untuk membahas segala hal tentang lamaran dari pihak laki-laki.
Setelah semua pihak perempuan menyetujui lamaran dari pihak laki-laki diterima, maka keluarga pihak perempuan akan membahas dan menetapkan berapa besar mahar, kapan acara pernikahan apakah pasangan tersebut akan ditunangkan dulu atau langsung di nikahkan sekaligus diresmikan. serta segala hal yang dianggap perlu untuk di musyawarahkan bersama.

Ranub Kong Haba
Selesai Upacara Jak Meulakee (meminang) dan Keluarga Perempuan pun Telah Musyawarah(Duek Pakat). Maka tibalah saatnya Ba Ranub Kong haba (Sirih pertunangan). Ranub Kong Haba ini dimaksudkan sebagai meminang resmi.
Dalam upacara tersebut, pihak keluarga anak dara memberitahukan dan sekaligus mengundang orang tua kampong, seperti Keuchik dan Teungku sagoe bersama isterinya, supaya pada hari dan tanggal yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak pada waktu upacara Jak Meulakee yang lalu, hadir kerumahnya, demikian pula turut diundang sanak keluarga yang dekat dan para tetangga. Maksud dan tujuannya yaitu untuk menunggu kedatang rombongan utusan pihak laki-laki dan sekaligus mendengarkan pembicaraan-pembicaraan kedua belah pihak.
Dalam acara ini kedua belah pihak merundingkan tentang :
a. Jeulamee (mas Kawin). Kebiasaan masalah mas kawin ditentukan oleh orang tua pihak gadis. Jumlah mas kawin yang berlaku didaerah Kabupaten Aceh barat yaitu berkisar antara 10-20 Mayam Emas. Di daerah kabupaten Aceh Barat juga ada ketentuan mahar mitsil , yaitu menurut mahar saudara perempuannya.
b. Waktu yang baik untuk Meugatib/menikah dan bersanding (walimah).
c. Dan hal-hal lain yang dirasa perlu sehubungan dengan upacara berlangsungnya perkawinan tersebut.
Upacara berlangsung dalam suasana yang diliputi adat. Baik tutur kata, sikap, sajian makanan dan kedaan ruangan diseluruh rumah.

Jak ba Tanda (Tunangan)
Setelah adanya keputusan kedua belah pihak, sesuai waktu yang telah ditentukan. Pada acara Pertunangan ini, biasanya pihak laki-laki memberi emas sebagai tanda, Biasanya yang membawa hadiah pertunangan tersebut orang-orang tertentu. Misalnya Keuchik, Teungku, Theulangke, dan keluarga pihak laki-laki. Demikian juga dari pihak dara baro yang menunggu. Jenis pembawaan yaitu satu atau dua mayam emas. Emas tersebut bisa berbentuk cincin, gelang atau kalung. Emas tersebut dimasukkan kedalam cerana atau “Ranup Meuh” yang didalamnya berisikan Breuh Pade. Selain emas tersebut juga di ikuti dengan barang-barang lainnya, seperti kain baju, kain sarung, selendang dan sebagainya. Sesuai kemampuan mempelai laki-laki.
Namun bila ikatan pertunangan ini putus ditengah jalan, ada konsepsi yang harus ditanggung. jika pertunangan putus disebabkan oleh pihak laki-laki, tanda emas tersebut akan dianggap sebagai Hadiah untuk perempuan tersebut. Dan menjadi hak milik perempuan, tetapi ada juga perempuan tersebut tidak mau memilikinya dan mengembalikan tanda emas tersebut kepada Tseulangke pihak laki-laki. Dan kalau penyebab putusnya pertunangan tersebut adalah pihak perempuan, menurut Adat, tanda emas tersebut harus dikembalikan sebesar dua kali lipat kepada pihak laki-laki.

“Pajoh Bu tuha”
Pajoh Bu tuha adalah istilah yang digunakan untuk acara musyawarah, musyawarah seluruh masyarakat desa, terutama tokoh-tokoh desa, tetangga, dan yang lainnya. Tradisi ini serupa dengan Pembentukan Panitia.
Kegiatan ini bertujuan untuk membahas acara utama pada hari H (hari akan diadakannya pesta). masyarakat secara bergotong royong akan mempersiapkan acara pesta perkawinan. Dan pihak keluarga meminta bantuan kepada masyarakat untuk kelangsungan acara pesta. Acara ini biasanya dilaksanakan Malam hari, tepatnya 1 minggu sebelum hari H. sambil membahas tentang segala kesiapan untuk acara menjelang pesta, sebagai tradisi, para tamu yang datang disuguhi dengan hidangan khas Aceh yaitu pulut ketan (pulut berkuah).
g
Boh Gaca (Berinai)
Boh Gaca atau berinai adalah pemakaian daun pacar untuk menghiasi tangan Calon Dara Baro. Boh Gaca merupakan tradisi pernikahan dan merupakan sunah Rasul. Prosesi Boh Gaca ini diawali dengan “Peusijuk Gaca” . menurut tradisi untuk peusijuk Gaca ini, Buleukat untuk peusijuk diantar oleh saudara perempuan dari ayah atau ibu pengantin perempuan.
Selanjutnya, calon dara baro di Peusijuk oleh orang yang dituakan dalam keluarganya, dan disusul dengan pemakaian Inai, inai dipakaikan di kedua tangan calon dara baro, persisnya dari ujung jari sampai lengan tangan. serta kedua kaki hingga menutupi telapak kaki pengantin. Kegiatan ini dilakukan hingga 3 malam berturut-turut. Boh gaca ini Selain dilakukan oleh pengantin juga dilaksanakan oleh perempuan-perempuan yang masih gadis yang masih memiliki hubungan kekerabatan, atau tetangga-tetangga.

Peu Manoe Dara Baro (siraman)
“Peu manoe Dara Baro” adalah memandikan dara baro atau Siraman. Acara Siraman
dilakukan 1 hari sebelum hari H. dan biasanya dilaksanakan pada sore hari. Dengan pakaian khusus yang telah di persiapkan, Calon Dara Baro (perempuan yang akan menikah) melakukan acara siraman atau mandi, yang dikenal dengan istilah “Manoe Dara Baro” yang didudukkan di sebuah tempat. Menurut tradisi, Hal ini dimaksudkan sebagai pembersih dosa bagi calon pengantin wanita, di samping sebagai pengharum badan.
Dalam acara ini akan terlihat beberapa orang anak kecil akan mengelilingi calon dara baro sambil menari-nari. Tarian tersebut dikenal dengan nama “tarian pho” dengan dipimpin oleh seorang syeh yang membawakan syair-syair dalam bahasa Aceh. Syair-syair tersebut berisi Nasehat yang ditujukan kepada calon dara baro tersebut.
Setelah selesai tarian pho, maka berlangsunglah upacara siraman, calon dara baro disambut dan dipangku oleh Nye’wa nya atau saudara perempuan dari pihak orang tuanya. Kemudian satu persatu anggota yang dituakan akan memberi air siraman kepada calon Dara Baro. Air siraman diberikan beberapa jenis bunga-bungaan tertentu.

Akad Nikah
Sebelum Akad Nikah, kedua calon mempelai diproses terlebih dahulu, proses yang dimaksud adalah beberapa pertanyaan tentang agama Islam. Pertanyaan ini diberikan oleh pihak kantor KUA. Setelah kepala Kantor KUA mengesahkan, kedua mempelai sudah bisa dinikahkan. Maka dilanjutkan dengan Prosesi Akad Nikah.
Pada Proses Akad Nikah sesuai ketentuan Agama Islam, harus hadiri oleh penghulu (orang yang menikahkan) wali kedua belah pihak, serta saksi. Proses akad Nikah ini biasanya dilakukan di mesjid.
Sebelum Proses Ijab Kabul, Terlebih Dahulu Diperlihatkan Mahar (mas kawin) yang diletakkan di dalam sebuah tempat yang disebut dengan “Batee Meuh”, sesuai dengan adat, Batee meuh tersebut di Balut dengan 7 helai kain. Mahar itu diperlihatkan kepada seluruh keluarga yang hadir dalam acara akad nikah tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi Ijab Kabul. Untuk Ijab Kabul, Kedua mempelai duduk di tempat yang telah disediakan, yang biasa disebut dengan “Bantai Gulong”.
Prosesi Ijab Kabul, wali perempuan ijab dengan pengantin laki-laki. Calon mempelai laki-laki mengabulkannya. Setelah saksi mengesahkan. Maka resmilah kedua mempelai sebagai suami isteri.

Walimah & Antar Linto
Antar Linto dilakukan pada hari H, hari yang telah ditentukan, antar Linto sekaligus dengan pesta pernikahan atau walimah di rumah mempelai perempuan. Pada Acara Pesta hadir tamu-tamu undangan, yang disuguhi hidangan-hidangan lezat, serta dimanjakan dengan hiburan-hiburan seperti kesenian-kesenian Aceh.
Upacara Antar Linto adalah sebuah prosesi dimana linto baro diantar oleh pihak keluarganya ke rumah dara baro. Pada Upacara Antar Linto kedua pengantin mengenakan pakaian adat Aceh yang sangat Khas.
Pihak keluarga Linto Baro membawa seserahan, yang dalam istilah aceh disebut dengan ”Peu Neu Woe”, peu neu woe ini adalah pemberian dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan. Berupa segala barang-barang keperluan mempelai perempuan, seperti seperangkat alat shalat, pakaian, perlengkapan mandi, kosmetik, buah-buahan dan lain sebagainya.
Saat Rombongan Linto sampai di rumah dara baro, sang Linto disambut dengan “Tarian Ranup lam Puan” tarian ini adalah tarian penyambutan. Tarian ini dipimpin oleh seorang Putri, Putri tersebut yang menggandeng Linto baro menuju pintu rumah dara baro, di depan pintu telah disambut oleh seseorang yang dalam istilah aceh disebut “Nek penganjo” sebelum memasuki rumah terlebih dahulu prosesi Tukar Ranup antara Nek Penganjo laki-laki dan Nek penganjo perempuan.
Kemudian Pengantin laki-laki dipesijuk sebelum memasuki rumah. Di depan pintu telah dibentang kain panjang yang dibentuk seperti tangga dan telah ditaburi beras, masuklah Linto baro kedalam rumah berjalan diatas kain panjang tersebut disusul denga rombongan-rombongan yang lainnya. Didalam rumah telah menanti pengatin perempuan dengan di damping seseorang. Wajah pengantin perempuan di tutup dengan kipas. Kemudian bersalamanlah kedua mempelai dan duduk bersanding dipelaminan.
Setelah itu kedua pengantin di pesijuk, yang didahului oleh keluarga laki-laki, keluarga laki-laki akan memberikan uang (salam tempel) kepada pengantin perempuan. Dan uang tersebut kemudian ditambah jumlahnya oleh keluarga perempuan dan saat keluarga perempuan melakukan peusijuk kepada kedua pengantin, diberikan uang tersebut kepada pengantin Laki-laki.
Selesai Proses Peusijuk oleh kedua keluarga, maka saatnya Rombongan laki-laki menyantap aneka hidangan yang telah disiapkan oleh pihak perempuan.

Antar Dara Baro
Antar dara baro adalah prosesi dimana diantarnya dara baro ke rumah pihak laki-laki oleh keluarganya. Prosesnya tidak jauh berbeda dengan antar Linto, hanya saja Tempat Peu neu Woe yang dibawa oleh pihak laki-laki dikembalikan dengan mengisi berbagai macam Kue-kue khas Aceh.

Sumber https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=251342704991026&id=229022533889710









 Untuk kritik dan saran silahkan kirim disini.



0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
Selamat datang di artikelnikah.com adalah situs kumpulan tentang seputar pernikahan, apa yang perlu dipersiapkan sebelum pernikahan dan tips-tips menghadapinya, dapat anda temukan di artikelnikah.com. artikelnikah.com juga menghadirkan voting tentang relevansi waktu persiapan nikah, layaknya sebuah acara nikah, dan masih banyak lagi. Anda sebagai pengunjung juga dapat mengisi kritik dan saran, atau mengirim artikel yang anda ketahui tentang pernikahan apapun itu di kirim melalui menu kirim artikel. Kami akan menampung dan memposting kiriman anda untuk keperluan pencari info bagi pengunjung yang lain. Terimakasih dan selamat berkunjung, salam artikelnikah.com.