Minggu, 14 Oktober 2012

Memilih Hari Baik Pernikahan Menurut Katolik


Praktek Petung alias Mencari Hari Baik
Tinjauan Kritis dalam Perspektif Iman Katolik
F.X. Didik Bagiyowinadi,Pr

Hari Baik yang Kerap Merepotkan
Kita mengimani bahwa semua hari adalah baik, sebab Tuhan telah menciptakan bumi dan segala isinya sungguh baik adanya (Kej 1). Namun, untuk menentukan hari dan tanggal pernikahan, masih juga ada sebagian umat Katolik yang berusaha mencari hari baik. Kalau sudah urusan petung (mencari hari baik), mereka mulai kembali ke tradisi lama, entah dalam petung Jawa ataupun Tionghoa.
Mereka yang mencari hari baik dilatarbelakangi anggapan bahwa hari baik pernikahan itu menentukan kebahagiaan perkawinan (kelanggengan, rejeki, dsb). Maka masyarakat Jawa biasanya mengadakan pernikahan pada bulan-bulan tertentu yang diyakini membawa berkat, yakni bulan Jumadilakir (sugih mas salaka=kaya), Rejeb (kaya anak dan selamat), Ruwah (baik segala-galanya), atau bulan Besar (Sugih nemu sukaraharja= kaya dan menemukan kebahagiaan). Selanjutnya, dari bulan-bulan tersebut dipilih yang mempunyai hari Selasa Kliwon. Namun petung Jawa tidak berhenti di sini, masih perlu menentukan hari naas/sial yang mesti dihindari. Baru kemudian menentukan saat yang tepat (hari, tanggal, dan jam) untuk melaksanakan ijab kabul/pemberkatan nikah. Repotnya, penentuan hari dan jam perkawinan yang sedemikian rinci, kerap sulit dilayani, entah karena pada jam yang sama ada manten lain atau karena jam pernikahannya merepotkan romo. Misalnya, minta pemberkatan nikah pada jam dua atau tiga siang, sementara sore harinya romo masih harus mengajar katekumen/ misa.
Sementara, dalam tradisi Tionghoa, manakala orang tua calon mempelai ada yang meninggal, maka rencana pernikahan mesti dipercepat sebelum peringatan arwah 100 hari atau setelah habis masa kabungnya (3 tahun). Kesulitannya, bila memilih sebelum 100 hari, persyaratan administrasi gereja belum beres atau keluarga yang ditinggalkan masih merasa down dan berkabung. Sementara bila mesti menunda perkawinan sampai tiga tahun lagi, kedua calon mempelai yang tidak sabar.

Sekedar Contoh dalam Petung Jawa
Sebenarnya bagaimana Petung Jawa menentukan hari sial/naas yang perlu dihindarkan? Ternyata Petung Jawa memberi aturan yang cukup rumit. Menurut H. Djanudji, dalam Primbon: Empat Macam Petung (Surabaya: Agrisarana, 1999), ada tiga cara untuk menentukan hari naas/ sial, yakni:

    hari ketiga setelah hari kelahiran (misal: Mempelai pria lahir pada Selasa Wage, maka hari naasnya jatuh pada Kamis Legi);
    jumlah naptu hari dan pasaran kelahiran (misal: weton Selasa Wage adalah 7, maka perlu dihitung tujuh hari sejak Selasa Wage sehingga hari naasnya adalah Senin Kliwon).
    Hari meninggalnya orang tua mempelai juga merupakan hari naas yang perlu dihindari untuk akad nikah.

Sedangkan untuk menentukan hari, tanggal, dan saat akad nikah, masih ada banyak petung hari yang lebih rumit lagi.

Selain penentuan hari pernikahan berdasarkan weton (hari kelahiran), petung Jawa juga bisa menentukan hari baik-buruk berdasarkan tanggal Jawa seperti dimuat dalam Surat Centhini. Tanggal-tanggal yang dikategorikan baik diberi alasan dari peristiwa baik dalam kisah para nabi (versi Islam). Misalnya tanggal 1 dikategorikan baik karena Tuhan menjadikan Nabi Adam, tanggal 2 baik untuk pernikahan karena Tuhan menjadikan Hawa dan tgl. 4 tergolong baik karena Tuhan menjadikan Abil. Demikian juga pengkategori hari buruk, juga dikaitkan dengan pengalaman buruk dalam kisah para nabi. Misalnya tanggal 3 adalah buruk karena Tuhan mengusir Adam-Hawa. Tanggal 8 adalah hari buruk karena akan ada malapetaka seperti Tuhan mendatangkan air bah pada zaman Nabi Nuh. Tanggal 16 adalah buruk karena Tuhan membinasakan umat nabi Luth (peristiwa Sodom-Gomora?).

Tinjauan Kritis
Dari uraian di atas, bisa diajukan beberapa keberatan sebagai berikut:
Weton dan shio kelahiran seseorang kerap dikaitkan dengan sifat dan wataknya, sebagai dasar untuk menentukan bisa tidaknya kedua calon mempelai itu menikah. Terhadap pengandaian ini, bisa diajukan beberapa keberatan sebagai berikut:

    Benarkah sifat seseorang ditentukan oleh weton atau shio-nya? Bukankah bayi kembar yang lahir pada jam bersamaan memiliki sifat yang berbeda? Penilaian watak dan sifat seseorang berdasarkan weton dan shio, menganut paham determinisme, artinya sifat seseorang ditentukan oleh saat kelahirannya. Padahal kita tahu, sekalipun lingkungan cukup mempengaruhi pendidikan dan pembentukan watak manusia, seseorang masih bisa menolak pengaruh lingkungannya. Anak yang dibesarkan dalam keluarga broken-home, bukan berarti tidak bisa setia dalam pernikahan. Paham determinisme demikian mengabaikan adanya kehendak bebas manusia dan juga rahmat Tuhan yang memungkinkan kita mengatasi pengaruh buruk dari lingkungan sekitar.
    Barangkali dulu ketika urusan menikah masih dijodohkan orang tua seperti zaman “Siti Nurbaya”, perhitungan berdasarkan weton dan shio untuk mengenal calon pasangan, masih bisa dimaklumi. Tetapi pada zaman sekarang, orang sudah memilih sendiri siapa yang bakal menjadi teman hidupnya. Melalui proses pacaran mereka bisa saling mengenal sifat dan pribadi pasangannya. Dan kerap terjadi, akhirnya mereka menyadari sama-sama berwatak keras (bukan dari perhitungan weton atau shio,lho), tetapi toh mereka tetap nekad menikah karena sama-sama sudah saling mencintai. Adanya sifat dan watak yang kurang klop (kaku-lembut, ramai-pendiam), bukanlah suatu halangan, masih ada cara untuk menyiasati. Sementara perhitungan weton dan shio, langsung bilang, “Tidak bisa!” Apa dasarnya? Kata primbon dan “orang pinter”.


Selanjutnya penentuan hari naas/sial, tidak memiliki dasar yang kuat, sekedar othak-athik gathuk. Begitu juga hari buruk berdasarkan tanggal Jawa, kenapa musibah air bah zaman Nuh dijatuhkan pada tanggal 8, bukan tgl lain? Bukankah hal ini sekedar pengurutan kisah para nabi (versi Islam) dan diberi nomor urut 1 sampai 30?

Sudah Dibebaskan oleh Tuhan Yesus
Sebagai orang beriman, bagaimana kita mesti menilai praktek mencari hari baik dan hari buruk ini? Apa landasan iman bagi kita untuk mengambil sikap?

Pelbagai perhitungan hari baik-hari buruk di atas sebenarnya membuat orang merasa cemas. Orang khawatir dan takut dengan perjalanan perkawinannya, seandainya dilangsungkan pada “hari buruk”. Justru, suasana ketakutan dan teror inilah yang juga telah ditebus oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sungguh sudah membebaskan kita semua, membawakan kabar gembira, dan berseru, “Jangan takut!” (Lih. Mat 14:27). Kalau pada zaman dulu Tuhan Yesus telah membebaskan umat Yahudi dari belenggu peraturan Taurat versi kaum Farisi, saat ini Dia juga mau membebaskan kita dari segala perhitungan hari baik-hari buruk. Tuhan Yesus mau membebaskan kita dari warisan nenek-moyang yang membuat kita merasa takut. Tulis Rasul Petrus, “Kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu, bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus” (1 Ptr 1:18-19). Adapun alasan kita tidak perlu merasa takut adalah adanya penyertaan Tuhan sendiri. Sabda-Nya, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20b).
Lalu bagaimana kaitannya dengan rejeki dan kebahagiaan perkawinan pada masa mendatang? “Situasi kehabisan anggur” bisa saja terjadi pada keluarga Katolik. Tetapi, sejauh kita menghadirkan Kristus dan Bunda Maria dalam keluarga kita, semuanya bisa diatasi. Asal kita mau mendengarkan saran Maria untuk melakukan apa saja yang diminta Kristus, masa depan tak perlu membuat kita merasa cemas dan takut (Lih Yoh 2:1-11; selanjutnya lihat renungan kami dalam Seri Kado Perkawinan 2, hlm. 103-111). Janji Yesus, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:8). Asalkan kita mau mencari dan mengusahakan Kerajaan Allah terlebih dahulu, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita (Mat 6:33).

Bukan Hari Baik, tapi Sebaiknya Hari ....
Jika demikian halnya, bagaimana sebaiknya orang Katolik menentukan hari pernikahan? Dahulu Gereja Katolik mengenal “tempus klausus”, yakni waktu tertutup untuk mengadakan pernikahan, yakni pada masa Prapaskah. Namun Hukum Gereja sekarang (1983) meniadakan “tempus klausus” tersebut. Statuta Keuskupan Regio Jawa Pasal 136 no.3 menyebut “Tidak ada larangan melangsungkan perkawinan selama masa Adven dan masa Prapaskah, tetapi hendaknya sedapat mungkin dihindari pesta meriah yang kurang sesuai dengan suasana Prapaskah”. Menjadi pertanyaan, mungkinkah umat Katolik di Indonesia melangsungkan pernikahan tanpa mengadakan pesta? Jika ingin merayakan Sakramen Pernikahan dengan pesta, sebaiknya tidak memilih masa Prapaskah.

Selanjutnya untuk menentukan hari pernikahan yang ideal, kita tidak perlu lagi berpikir untuk mencari hari baik, tetapi berpikir untuk menentukan “sebaiknya hari ...”, artinya dengan menggunakan pelbagai pertimbangan yang logis dan wajar. Berikut ini kiranya hal-hal yang perlu dipertimbangkan.

    Pertama, apakah tenggang waktu persiapan pernikahan masih memungkinkan untuk melengkapi pelbagai persyaratan administrasi perkawinan gereja, mengikuti kursus perkawinan, penyelidikan kanonik, dan pengumuman gereja selama tiga minggu berturut-turut?

    Kedua, apakah “kelima orang” bisa bertemu, yakni kedua mempelai, pastor yang akan memberkati pernikahan, dan dua saksi pernikahan. Itulah yang minimal dituntut Hukum Gereja yang mesti hadir dalam pernikahan.

    Ketiga, apakah secara teknis gedung gerejanya masih kosong? Penentuan jam pemberkatan di gereja perlu juga mempertimbangkan bahwa romo dan koster gereja pun perlu istirahat.
    Keempat, kapan yang memungkinkan sebanyak mungkin tamu bisa hadir? Maka dewasa ini hari Sabtu-Minggu lebih banyak dipilih sebagai hari pernikahan.


Maka kesimpulannya, tidaklah salah Anda memilih hari pernikahan pada masa-masa dimana masyarakat sekitar umumnya menyelenggarakan pernikahan, namun tidak perlu sampai rinci mencari hari dan jam pernikahan berdasarkan petung tadi, tetapi cukup dengan pertimbangan logis-praktis “sebaiknya hari …”. Namun, Anda tetap bebas menentukan hari pernikahan di luar masa-masa umum (Rejeb, Besar, dll) tadi. Namun, ada sedikit catatan, untuk kita yang tinggal di masyarakat sekitar mayoritas muslim, tentunya tidak akan mengadakan pesta pernikahan pada bulan Ramadhan. Pilihan demikian tentu lebih didasarkan pada pertimbangan logis-etis untuk menghormati mereka yang tengah menjalankan ibadah puasa.
Demikianlah beberapa catatan mengenai penentuan hari pernikahan. Semoga memberi pencerahan.

Sumber :
http://imankatolik.or.id/forum/viewtopic.php?f=13&t=42&p=108#p108


Dan Sekalian Kami Lampirkan Prosedur Pernikahan di Gereja Katolik

    PROSEDUR PERNIKAHAN GEREJA KATOLIK
    A. TAHAP PERTAMA

        Pendaftaran pernikahan di Gereja melalui Sekretariat pada paroki masing-masing pada hari kerja (hari kerja dan waktu buka seketariat disesuaikan masing-masing paroki
        Membawa surat pengantar dari lingkungan calon mempelai (baik Pria dan wanitanya). Dalam hal ini Surat Pengantar untuk mengikuti KPP (Kursus Persiapan Perkawinan)
        Membawa Foto Copy Surat Baptis yang diperbaharui :
            Katolik dengan Non Katolik - Salah satu calon mempelai yang beragama Katolik
            Katolik dengan Katolik – kedua calon mempelai wajib melampirkannya

        Surat Baptis yang diperbaharui berlaku 6 bulan samapai dengan hari H (Pernikahannya)

        Membawa Pas Foto 3x4 masing-masing 3 lembar
        Menyelesaikann Biaya Administrasi KPP (Kursus Persiapan Pernikahan), besar biaya disesuaikan paroki masing-masing. Dan hal-hal yang berkaitan dengan pendaftaran KPP, bisa ditanyakan di seketariat maing-masing paroki.

    B. TAHAP KEDUA

        Selesaikan prosedur Tahap Pertama
        Mengisi fonnulir dan menyerahkan berkas-berkas pernikahan,
        yaitu:

            Surat pengantar dati lingkungan masing--masing
            Sertifikat Kursus Persiapan Pemikahan yg asli dan fotokopinya
            Surat baptis asli yang telah diperbaharui
            Foto berwama berdampingan ukuran 4x6 sebanyak 3 lembar
            Fotokopi KTP saksi pernikahan 2 (dua) orang yang Katolik

        Kedua calon mempelai datang ke Romo ybs untuk melakukan pendaftaran penyelidikan kanonik (harus datang sendiri, tidak dapat diwakilkan)
        Bagi calon mempelai yang belum Katolik danlatau bukan Katolik, harap menghadirkan 2 (dua) orang saksi pada saat penyelidikan kanonik untuk menjelaskan status pihak yang bukan Katolik. Saksi adalah orang yang benar-benar mengenal pribadi calon mempelai yang bukan Katolik dan bukan anggota
        keluarga kandungnya.
        Apabila kedua calon mempelai dari luar Paroki/Gereja dimana domisili calon mempelai harap membawa surat delegasi/pelimpahan pemberkatan pemikahan dari Pastor/Romo setempat (tempat Penyelidikan Kanonik

    C. PERNlKAHAN CATATAN SIPIL

        Datang ke sekretariat Gereja sebulan sebelumnya untuk pengurusan pemikahan catatan sipil dengan membawa: (Bila catatan Sipil dilakukan di Gereja setelah Pernikahan)

            Surat pengantar dari Kelurahan untuk pendaftaran perkawinan
            Fotokopi KTP dan Kartu Keluarga Kelurahan kedua belah pihak
            Fotokopi Akta Kelahiran kedua mempelai
            Fotokopi SKBRI (WNI). Jika tidak ada, bawa SKBRI/WNI orang tua
            Untuk umat keturunan - Fotokopi Surat Ganti Nama (Bila tidak ada, lampirkan Surat Ganti Nama dari. orangtua)
            Pas foto berdampingan ukuran. 4 x 6 sebanyak 6 lembar

        Akan dibuatkan pengumuman ke kantor Catatan Sipil sesuai KTP yang bersangkutan dari calon mempelai. (kebijakan ini tergantung catatan sipil setempat)
        Pada hari "H", Akta Kelahiran asli kedua mempelai dan Surat Pemberkatan Nikah Gereja diserahkan kepada petugas Catatan Sipil
        Pencatatan pemikahan sipil bisa diurus oleh mempelai sendiri atau oleh Pihak Gereja.

    D. BIAYA

        Untuk besar Biaya disesuaikan dari kebijakan masing-masing Paroki yang bersangkutan dimana akan diadakn pernikahan tersebut. Biaya tidak terikat dan khusus bagi mereka yang kurang mampu, dapat menghubungi Romo Paroki yang bersangkutan, untuk mendapatkan keringanan, dan Bahkan bagi yang sama sekali tidak mampu diberikan kebebasan “semampunya” untuk mengganti biaya-biaya Administrasi.
        Biaya-biaya tersebut digunakan untuk :

            Pembayaran biaya-biaya administrasi, listrik Gereja terlebih bila Gereja tersebut ber-AC
            Pencatatan Pernikahan Catatan Sipil bila dilakukan di Sekretariat Gereja dan Biaya transport untuk Petugas dari Catatan Sipil setempat.

        Mintalah Tanda Bukti Pembayaran dari pihak sekretariat.
        Biaya-biaya diluar Keseketariatan yaitu:
            Bunga dekorasi
            Sumbangan tanda kasih untuk Paduan suara - langsung kepada
            dirigen/pimpinan Paduan Suara
            Iura Stolae bagi pastor/Romo yang memimpin upacara Pernikahan (yang sepantasnya berlaku umum). Iura Stolae diletakkan di dalam keranjang buah persembahan. Jika pemikahan dilangsungkan dalam pemberkatan (bukan misa), Iura Stolae diberikan langsung kepada imam setelah pernikahan.

     TIPS menghemat Biaya pernikahan

        Tidak menggunakan Weddings Organizer
        Bisa menggunakan fasilitas Kapel (bila terdapat kapel) sehingga biaya operasional gedung gereja lebih effisien (karena Kapel tidak terlalu besar baik dari segi ukuran bangunan maupun penggunaan Daya listrik (Ac bila ada)).
        Bila mempelai adalah anggota Paduan Suara (koor), bisa meminta bantuan team Paduan Suara / koor-nya
        Tidak menggunakan dekorasi bunga secara berlebihan

    Catatan:

        Weddings Organizer di luar tanggung jawab gereja dan tidak diperkenankan campur tangan dalam urusan liturgi di gereja.
        Jika upacara pernikahan dirayakan dalam misa kudus hari Minggu, maka liturgi yang di gunakan adalah liturgi hari Minggu yang bersangkutan.
        Persembahan untuk misa adalah: roti dan anggur, buah, bunga (Lilin tidak!)
        Mempelai dimohon mempersiapkan lektor untuk membaca doa umat dan 4 orang pembawa persembahan.
        Format teks pernikahan yang berlaku biasanya disediakan di paroki masing-masing (bisa hubungi pihak sekretariat paroki.
        Jika ada sumbangan sukarela untuk kas putera altar, diletakkan di dalam keranjang buah dengan keterangan yang jelas. Tidak diperkenankan memberi langsung kepada putera altar yang bersangkutan (jika hanya pemberkatan langsung diserahkan kepada imam yang bersangkutan).
        Tidak ada biaya untuk koster dan pihak sekretariat secara pribadi.
        Permintaan surat baptis yang diperbaharui atau surat-surat lainnya kepada pihak sekretariat dikenai sumbangan sukarela yang langsung dimasukkan dalam kotak sumbangan administrasi yang disediakan di kantor sekretariat.
        Hal-hal khusus lainnya langsung ditanyakan kepada pastor paroki

    E. PERSIAPAN-PERSIAPAN DAN KELENGKAPAN LAIN

        Yang perlu dipersiapkan oleh Pengantin ialah

        Bentuk Panitia dari keluarga (2-3 orang)
        Salib, Rosario dan Kitab Suci
        Persembahan: buah-buahan, dan bunga persembahan
        Bunga untuk Bunda Maria
        Menentukan/memilih kelompok Paduan Suara/Koor
        Buku Panduan Pernikahan (harap dikonsultasikan dahulu dan mendapat persetujuan dari Pastor/romo yang akan memberkati)
        Cincin Perkwainan kedua mempelai
        Saksi Pernikahan
        Dekorasi bunga (Lihat biaya diluar keseketariatan)
        Putera Altar akan disiapkan dari Gereja.
        Segala perlengkapan Gereja (kecuali yang disebutkan diatas) akan
        disiapkan oleh Koster Gereja

    Kebijakan Paroki Tentang Pernikahan Pada Masa Khusus
    Pada prinsipnya gereja dilarang merayakan misa ritual pada hari Minggu selama masa khusus. Aturan ini tercantum dalam Misale Romanum terbaru art. 372. beberapa hal yang harus diperhatikan melalui pernyataan di atas adalah:

    Misa ritual adalah perayaan yang berkaitan dengan sakramen (mis: pernikahan) atau sakramentali (pemberkatan rumah).
    Masa khusus meliputi:

    Adven

    Masa persiapan kita untuk menyongsong pesta Natal (hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus); sekaligus masa penantian eskatologis (kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya, yaitu dalam kemuliaan-Nya pada akhir jaman).

    Rabu Abu

    Abu adalah sisa-sisa pembakaran daun palma yang telah kering yang berwarna hitam. Dalam Kitab Suci, abu antara lain mengungkapkan:

        sesuatu yang tidak berharga;
        kesengsaraan;
        kerendahan diri di hadapan Allah (bdk. Kej 18:27);

    Dalam upacara Rabu Abu (awal masa prapaskah) dahi kita diberi abu untuk mengungkapkan kelemahan dan dosa kita yang ditandai dalam proses matiraga (puasa dan pantang) dan tobat.

    Prapaskah

    Mempersiapkan para calon Baptis untuk memberi arti dan menghidupi sakramen Baptis yang akan mereka terima pada Hari Raya Paskah/Masa Paskah.
    Mempersiapkan seluruh umat beriman akan Yesus Kristus untuk bisa lebih memaknai dan menghayati hidup dalam persatuan  dengan sengsara-wafat-kebangkitan-Nya.

    Pekan Suci (Minggu Palma - Kamis Putih - Jumat Agung -  Sabtu Suci -Malam Paskah - Minggu Paskah)

    Minggu Palma

      Perayaan kemenangan Kristus Raja dengan penyambutan-Nya di Yerusalem; sekaligus pewartaan penderitaan-Nya sebagai jalan menuju kemuliaanNya.

    Kamis Putih

    Mengalami kembali tiga penstiwa penting, yaitu:

        persembahan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur kepada Bapa dan para rasul sebagai makanan dan minuman yang berdasarkan Kasih-Nya kepada dunia (pendirian sakramen Ekaristi);
        penugasan para rasul dan penggantinya dalam imamat yang juga dipersembahkan sebagai kurban;
        perintah Yesus mengenai Kasih Persaudaraan.

    Jumat Agung

    Merenungkan sengsara Tuhan Yesus Kristus, domba kurban  kita yang dipersembahkan dan kita menyembah salibNya (lih. 1Kor 5:7) melalui Sabda yang diperdengarkan untuk kita semua. Gereja mau menampilkan keikutsertaannya pada detik-detik terakhir sengsara dan wafat Yesus. Dan lewat Sabda yang dibacakan hari itu terungkaplah kekayaan teologi salibi
    pengorbanan total Allah untuk kita. Permenungan ini berangkat
    dari luka Kristus yang wafat pada salib disertai dengan doa bagi keselamatan seluruh dunia. Sifat Jumat Agung yang demikian ini menyadarkan kita untuk menghayatinya secara khusus sebagai hari tobat.

    Sabtu Suci

    Merenungkan penderitaan, wafat, dan turunnya Kristus ke  alam maut / dunia orang mati (lih. 1Pet 3:19). Saat itulah Yesus mewartakan keselamatan kekal kepada mereka yang mati sebelum Kristus hadir secara fisik. Begitu pentingnya makna Sabtu Suci ini sehingga tidak deperkenankan mengadakan sakramen-sakramen kecuali sakramen tobat dan sakramen pengurapan orang sakit (lih. Litterae Circurales De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrands art. 75).

    Malam Paskah

    Merupakan malam tirakatan (vigili) bagi Tuban (bdk. Kel 12:42 sikap berjaga-jaga bangsa di Israel yang akan dibebaskan dari perbudakan Mesir). Tirakatan ini diadakan untuk mengenang malam kudus Tuhan yang bangkit. Perayaan ini HARUS dilaksanakan pada waktu malam dan berakhir setelah fajar Minggu. Seperti umat Israel yang dibimbing oleh tiang api saat keluar dari Mesir, demikian juga orang-orang Kristiani pada gilirannya mengikuti Kristus Sang cahaya abadi dalam kebangkitan-Nya.

    Paskah

    Hari raya kebangkitan Tuhan telah tiba! Dengan demikian misa Minggu Paskah HARUS dirayakan dengan meriah.
    OktafPaskah

    Delapan hari khusus gereja untuk merayakan puncak dan inti iman kita akan Yesus Kristus yang bangkit untuk kita.

    Peringatan arwah semua orang beriman (setiap tgl. 02 November)        

    Peringatan Gereja secara khusus bagi semua orang yang telah meninggal dunia untuk memperoleh indulgensi (kemurahan hati atau pengampunan Allah) mela1ui doa-dao yang kita panjatkan.

   

    Berdasarkan makna dan suasana masa khusus dari dua dokumen liturgi, yaitu: Misale Romanum dan Litterae Circurales De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrands, Biasanya ada kebijakan (tergantung paroki setempat) berkaitan dengan perayaan upacara pemikahan, sbb:

    Dalam masa Adven dan Prapaskah masih diijinkan untuk melangsungkan upacara pemikahan dengan memperhatikan kesederhanaan. Ukuran kesederhanaannya adalah:

    A. Masa Adven

    Gereja

        Hiasan bunga diijinkan hanya di sekitar altar.
        Tidak menggunakan karpet di lorong.
        Tidak ada hiasan bunga di sepanjang lorong menuju altar.
        Tidak ada hiasan bunga di pintu masuk gereja.
        Warna liturgi mengikuti masa yang berlaku

    Imam dan mempelai

        Kasula imam berwarna putih.
        Mempelai diperkenankan membawa bunga tangan.
        Diperkenankan mempersembahkan bunga di patung Maria.

    B. Masa prapaskah

    Gereja

        Hiasan bunga TlDAK DIIJINKAN sarna sekali dan diganti
        dengan dedaunan secukupnya di sekitar altar.
        Tidak menggunakan karpet di lorong
        Tidak ada hiasan bunga di sepanjang lorong menuju altar
        Tidak ada hiasan bunga di pintu masuk gereja
        Wama liturgi mengikuti masa yang berlaku
        Orgen/alat musik lainnya hanya bersifat mengiringi lagu (tidak ada instrumental)
        Lagu-Iagu juga tidak sebanyak masa liturgi umum (dikonsultasikan dengan imam)

    Imam dan mempelai

        Kasula imam berwarna putih
        Mempelai diperkenankan membawa bunga tangan
        Diperkenankan mempersembahkan bunga di patung Maria

    2. Dalarn upacara Rabu abu, pekan suci, oktaf paskah, dan peringatan arwah semua orang beriman 2 November TlDAK DIIJINKAN untuk melangsungkan upacara pernikahan.

    3. Kebijakan ini akan berubah (bersifat tentatif) setelah dokumen khusus tentang pernikahan dari KWI mendapat pengesahan dari Vatikan dan diberlakukan di Keuskupan-keuskupan di Indonesia.

Sumber :
http://www.imankatolik.or.id

Baca juga Tips Artikel selanjutnya disini.


Kritik dan Saran Klik Alamat Tautan Disini.

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
Selamat datang di artikelnikah.com adalah situs kumpulan tentang seputar pernikahan, apa yang perlu dipersiapkan sebelum pernikahan dan tips-tips menghadapinya, dapat anda temukan di artikelnikah.com. artikelnikah.com juga menghadirkan voting tentang relevansi waktu persiapan nikah, layaknya sebuah acara nikah, dan masih banyak lagi. Anda sebagai pengunjung juga dapat mengisi kritik dan saran, atau mengirim artikel yang anda ketahui tentang pernikahan apapun itu di kirim melalui menu kirim artikel. Kami akan menampung dan memposting kiriman anda untuk keperluan pencari info bagi pengunjung yang lain. Terimakasih dan selamat berkunjung, salam artikelnikah.com.